Mimpi yang Mengalir Bersama Ciliwung

Layaknya pembuluh darah di tubuh manusia, sungai memegang peranan penting bagi kehidupan. Hanya saja kali ini bukan kehidupan satu individu yang terkait tapi sejumlah individu yang luar biasa banyaknya. Individu-individu tersebut terhubung bahkan tergantung pada sungai. Sungai mengalirkan asupan kehidupan dan energi bagi banyak orang. Sungai juga membawa harapan baru dalam setiap riaknya bagi sebagian yang lain.


Keadaan yang demikian telah berlangsung sejak lama. Mungkin sejak manusia menjadikan sungai sebagai sumber air mereka. Kemudian sungai juga menjadi tempat menangkap dan memelihara ikan. Lalu kita jadikan pula sungai sebagai tempat melepas lelah. Selanjutnya, kita membuat sungai menjadi jalur transportasi. Hingga hari ini kita telah begitu dekat dengan sungai dan berbagai manfaat yang bisa kita ambil darinya.


Masih sering terbayang dalam pikiran kita tentang kebesaran peradaban-peradaban dunia seperti Mesir, Babilonia dan peradaban lainnya. Semua peradaban tersebut tidak terlepas dari keberadaan sungai sebagai faktor penting bagi kejayaan peradaban tersebut. Ingatlah Nil yang menyumbangkan peran bagi Mesir dengan segala kemajuannya. Ingat juga Eufrat dan Tigris yang mengantarkan Babilonia kepada puncak keemasannya. Tidak salah bila mengatakan bahwa banyak sudah peran sungai terhadap manusia dan perkembangan peradaban.


Demikian pula halnya dengan sebuah sungai yang kita sebut Ciliwung. Ciliwung berliuk dari hulunya di kawasan Puncak, Bogor sampai menemui muaranya di Sunda Kelapa, Jakarta. Dalam perjalanannya terukir jasa-jasa bagi bermacam-macam orang yang pernah memanfaatkannya. Mulai dari orang-orang pribumi yang sudah tentu ikut “mereguk” manfaat sampai orang-orang Belanda dulu yang pernah merasakan dampak dari Ciliwung.


Ciliwung yang hulunya telah terbentuk sejak enam juta tahun yang lalu ini menyimpan jejak sejarah yang sangat panjang. Mulai dari kebudayaan perunggu-besi purba dulu hingga kebudayaan plastik modern seperti sekarang. Ciliwung pernah mewujudkan mimpi bangsa Belanda tempo dulu tentang sebuah kota berselera Eropa di tanah Jawa. Maka jadilah kala itu Ciliwung dengan kanal-kanalnya, mengatur tata air di kota Batavia (Jakarta). Sampai ketika rayuan-rayuan ekonomi mulai mengarahkan pikiran orang-orang dan dimulailah cerita tentang ketidakseimbangan pada lingkungan sungai Ciliwung.


Sungai ini begitu terkenal, baik di antara penduduk sekitarnya maupun orang-orang yang belum pernah melihatnya langsung. Namanya sering berkonotasi dengan kekumuhan, banjir dan ibukota. Sudah tak terhitung berapa kali nama sungai ini ikut disebutkan bersama kata banjir atau pemukiman kumuh. Oleh karena itu, tak heran orang-orang mengenalnya baik dari televisi, radio atau media informasi lainnya.


Ciliwung menghadirkan sugesti tentang kekotoran di satu sisi dan perjuangan hidup di sisi lainnya. Kita sampai-sampai akan bisa merasakan atmosfir kekotoran tersebut ketika membayangkan Ciliwung. Bau yang tak sedap, air keruh lagi penuh sampah, air cucian pakaian, tetesan-tetesan air mandi hingga bilasan usus ayam penjual bubur adalah sekilas gambaran tentang kotornya Ciliwung. Tapi di saat yang sama, terlukis pula dalam imajinasi kita tentang keteguhan dan susahnya bertahan hidup. Tak dapat dipungkiri bahwa Ciliwung dan manusia di sekitarnya telah saling menyaksikan suka duka selama kurun waktu yang sangat lama ini.


Bagiku dan mungkin bagi kebanyakan orang yang tinggal di Jabodetabek, Ciliwung adalah refleksi kehidupan manusia. Terbayang ketika Ciliwung indah mungkin kehidupan orang-orang di sekitarnya juga indah, atau bila orang-orang di sekitarnya hidup nyaman mungkin Ciliwung juga akan mengalir nyaman. Tidak mustahil Ciliwung juga bisa membawa peradaban manusia pada kejayaan dan puncak keemasan sebuah bangsa seperti yang pernah terjadi pada Nil serta Eufrat dan Tigris.


Aku berharap suatu ketika kita akan dicukupkan “berakit-rakit ke hulu” dalam mengurusi Ciliwung. Lalu akhirnya bisa “berenang-renang ke tepian”, mungkin juga kita akan benar-benar berenang-renang di sungai Ciliwung. Bermain air tanpa takut kotor, berenang tanpa khawatir akan terserang penyakit dan menyelam tanpa risau terhadap pencemaran limbah domestik, limbah industri, runoff jalan-jalan aspal, dan lain-lain.


Aku bermimpi melihat para pejuang kehidupan di Ciliwung yang lama menanggung penderitaan bisa dengan puas menikmati kesehatan dan kesejahteraan di bantaran sungai Ciliwung. Sementara sungai Ciliwung sendiri tetap bisa mengalir dengan wajar tanpa terusik oleh manusia.


Alangkah indah impian itu. Manusia tinggal dengan tentram di dekat hutan-hutan kecil sepanjang sungai Ciliwung. Hingga dalam mimpi pun aku merasa sedang bermimpi. Bagaimana tidak, bantaran sungai Ciliwung yang seharusnya penuh sesak dengan rumah-rumah entah permanen, semi permanen atau hanya dinding triplek yang disatukan seadanya, berubah menjadi jejeran pohon-pohon yang menghijau. Semuanya begitu hijau apalagi saat cahaya matahari memantul di jernihnya sungai Ciliwung kemudian pantulan itu menimpa dedaunan yang rimbun di pohon-pohon itu.


Kala keadaan sunyi senyap oleh karena suara kesibukan kota teredam hutan Ciliwung, aku terpaku pada riak-riak air Ciliwung. Mereka menyuguhkan ketenangan padaku dan pada warga sekitar Ciliwung. Ketenangan yang menghilangkan ketakutan tentang banjir atau kekhawatiran tentang sanitasi buruk.

Mimpi itu begitu indah. Oleh karenanya aku berharap dapat menjelaskan pada anakku saat ia melihat Jakarta lewat Google Earth bahwa garis perak yang meliuk-liuk seperti ular di tampilan tersebut adalah Ciliwung. Sedangkan bentangan karpet hijau yang membingkai Ciliwung adalah hutan terawat yang jadi harta seluruh warga kota. Tak lupa pula kujelaskan tentang susunan atap-atap di sebelah hutan Ciliwung adalah rumahnya, rumahku dan rumah tetangga-tetangga kami, warga Ciliwung.

0 Response to "Mimpi yang Mengalir Bersama Ciliwung"

Posting Komentar

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme