Kebenaran Islam yang Tak Pernah Lekang

Sudah barang tentu setiap muslim mengetahui bahwa Islam adalah satu-satunya kebenaran yang hakiki. Tidak ada kebenaran selain kebenaran Islam. Islam merupakan kebenaran yang datang dari Allah sehingga Dia-lah yang akan menjaganya. Meski banyak pengotoran dan pencemaran yang coba disusupkan ke dalam Islam, namun kemurnian Islam tak pernah ternodai sedikitpun.
Ibnul Qayyim dalam mukaddimah bukunya, Tahdzib As-Sunan, berkata: “Perkara paling utama yang mendapatkan perhatian, dimana manusia berlomba-lomba di bidang ini untuk mencapai tujuan yang paling utama, mereka bersaing di dalamnya, dan mereka bersungguh-sungguh untuk mencapainya, ialah ilmu yang diwariskan dari Rasul terakhir yang diutus oleh Rabb sekalian alam, yang tidak ada keselamatan bagi siapa pun di dunia dan akhirat kecuali mengikat diri dengannya; siapa saja yang meraihnya, maka ia telah berbahagia dan beruntung. Sebaliknya, siapa yang berpaling darinya, maka ia telah merugi dan terhalang. Karena ilmu ini adalah inti kebahagiaan dimana kebahagiaan tersebut berporos padanya, dan kendali iman yang kepadanya iman tersebut dirujukkan. Mencapai Allah dan keridhaan-Nya tanpa ilmu adalah mustahil, dan mencari petunjuk selainnya adalah kesesatan. Bagaimana mungkin sampai kepada Allah melalui selain jalan yang telah Allah jadikan sebagai sarana yang mengantarkan kepadanya, dan menunjukkan siapa saja yang meniti jalan tersebut kepada-Nya; karena Allah mengutus Rasul-Nya kepada manusia untuk menyeru kepada jalan itu, menyeru sesuai rambu-rambunya, dan menunjukkan kepadanya? Pintu selainnya tertutup, dan pelakunya terhalang dari petunjuk dan kebahagiaan. Semakin bersungguh-sungguh, maka ia akan semakin jauh dari Allah I. Hal ini terjadi karena ia telah menyimpang dari jalan yang lurus (shirathal mustaqim), berpaling dari manhaj yang lurus, dan lebih senang mengikuti pendapat-pendapat manusia. Ia sudah puas dengan banyak qila wa qala (konon dan katanya), lebih senang bertaklid, dan merasa cukup menjadi pengekor jalan orang-orang yang seperti dirinya. Ia tidak menempuh jalan ilmu dan metodologi ilmiah, tidak pula menempuh metode ilmiah tersebut menurut jenjangnya. Gemerlap cahaya ilmu tidak bersinar dalam hatinya, dan hatinya tidak menempati taman-taman ilmu. Tetapi ia menyusu dari puting susu yang tidak terjamin kesuciannya, dan ia mendatangi tempat minum yang kotor yang telah mengotori hati dan lisannya. Terkoyaklah kehormatan, tertumpahlah darah, dan terampaslah harta tanpa hak karenanya. Kecuali orang yang menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram serta menunaikan tiap-tiap hak kepada pemiliknya. Menempatkan syariat dan hukum pada tempat dan kedudukannya. Maka siapa saja yang menghendaki kebahagiaan dirinya, sedangkan hatinya masih hidup dan bisa memahami, ia harus mendorong dirinya membenci mengerahkan jerih payah dan usahanya untuk membela orang yang tidak punya kuasa menimpahkan mudharat dan manfaat, serta membenci menempatkan dirinya pada kedudukan orang-orang yang sia-sia usaha mereka dalam kehidupan dunia ini, namun mereka menyangka berbuat kebajikan. Sesungguhnya Allah telah menyiapkan suatu hari dimana ahli kebatilan akan menyesal, dan ahli haq akan beruntung.” Dia I berfirman:
tPöqtƒur Ùyètƒ ãNÏ9$©à9$# 4n?tã Ïm÷ƒytƒ ãAqà)tƒ ÓÍ_tFøn=»tƒ ßNõsƒªB$# yìtB ÉAqß§9$# WxÎ6y ÇËÐÈ
Artinya: “Dan (ingatlah) hari (ketika) orang zhalim itu menggigit dua tangannya, seraya berkata, ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan (yang lurus) bersama Rasul.” (QS. Al-Furqan:27)
tPöqtƒ (#qããôtR ¨@à2 ¤¨$tRé& ÷LÏiÏJ»tBÎ*Î/ ( ô`yJsù uÎAré& ¼çmt7»tFÅ2 ¾ÏmÏYŠÏJuÎ/ šÍ´¯»s9'ré'sù tbrâätø)tƒ óOßgt7»tGÅ2 Ÿwur tbqßJn=ôàムWxÏFsù ÇÐÊÈ
Artinya: “(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikit pun.” (QS. Al-Isra’:71)
Dalam mukaddimah Taqribul ‘Ulum karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Syaikh Bakar Abu Zaid berkata :
“Lalu bagaimana dugaan orang yang mengambil selain Rasul sebagai imamnya, dan mencampakkan sunnahnya ke belakang punggungnya, lalu meletakkan akal dan pendapat manusia di pelupuk kedua matanya? Kelak ia akan tahu pada Hari Penampakan, siapakah yang lebih merugi perdagangannya. Dan pada Hari Penimbangan, ia akan tahu apa perhiasan dan barang yang bisa dihadirkannya.”
Mayoritas manusia mengira bahwa apa yang mereka dapati dari nenek moyang mereka adalah agama, padahal sebenarnya agama yang benar tidak mengenalnya. Namun Allah pasti membangkitkan para pembela agama untuk menegakkan hujjah dan keterangan kepada mereka. Dari Tsauban bahwa Rasulullah r bersabda :
“Senantiasa ada golongan dari umatku (yang menjadi) pembela kebenaran (Islam); tidaklah membahayakan kepadanya orang yang menghinanya sampai datang hari kiamat, sedangkan mereka tetap teguh.” (HR. Muslim 3/1523)
ö@è%ur uä!%y` ,ysø9$# t,ydyur ã@ÏÜ»t6ø9$# 4 ¨bÎ) Ÿ@ÏÜ»t7ø9$# tb%x. $]%qèdy ÇÑÊÈ
Artinya: “Katakanlah: ‘Kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap.’ Sesungguhnya kebatilan itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS. Al-Isra’:81)
Maka janganlah pernah merasa khawatir bahwa kebenaran Islam akan menjadi samar, karena ia (Islam) adalah jalan yang lurus dan tak ada keraguan sedikitpun di dalamnya. Sehingga apabila ditemukan suatu hal yang baru atau kerancuan dalam Islam, maka telusurilah dengan berdasar pada Al-Qur’an dan Sunnah Shahihah sesuai pemahaman para salafus shalih supaya kita mendapatkan kebenaran yang terang dan jelas. Allah I berfirman:
.... bÎ*sù ÷Läêôãt»uZs? Îû &äóÓx« çnrŠãsù n<Î) «!$# ÉAqß§9$#ur bÎ) ÷LäêYä. tbqãZÏB÷sè? «!$$Î/ ÏQöquø9$#ur ̍ÅzFy$# ÇÎÒÈ....
Artinya: “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari Kemudian.” (QS. An-Nisa’:59)
Mengembalikan kepada Allah dan Rasulnya adalah mengembalikannya kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah setelah beliau wafat. Allah juga mengaitkan sikap mengembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya, ketika terjadi perselisihan, dengan keimanan, sebagaimana firman-Nya, “Jika kamu benar-benar beriman kepada Allah.” Dalam ayat lain Allah bersumpah bahwasanya mereka belum beriman sampai mereka menjadikan Nabi r sebagai hakim dalam segala urusan yang mereka perselisihkan.
Ÿxsù y7În/uur Ÿw šcqãYÏB÷sム4Ó®Lym x8qßJÅj3ysム$yJŠÏù tyfx© óOßgoY÷t/ §NèO Ÿw (#rßÅgs þÎû öNÎhÅ¡àÿRr& %[`tym $£JÏiB |MøŠŸÒs% (#qßJÏk=|¡çur $VJŠÎ=ó¡n@ ÇÏÎÈ
Artinya: “Maka demi Rabb-mu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’:65)
Dengan demikian dapat dipahami, apabila seseorang mengembalikan perselisihan kepada selain Allah dan Rasul-Nya, berarti orang tersebut tidak beriman kepada Allah. Allah I berfirman:
(#þqãèÎ7¨?$#ur z`|¡ômr& !$tB tAÌRé& Nä3øs9Î) `ÏiB Nà6În/§ `ÏiB È@ö6s% br& ãNà6uÏ?ù'tƒ Ü>#xyèø9$# ZptGøót/ óOçFRr&ur Ÿw šcrããèô±n@ ÇÎÎÈ
Artinya: “Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Rabb-mu sebelum datang adzab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya.” (QS. Az-Zumar:55)
Tidak dapat disangkal lagi bahwa Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya jelas lebih baik daripada pendapat orang. Allah berfirman:
.... !$tBur ãNä39s?#uä ãAqß§9$# çnräãsù $tBur öNä39pktX çm÷Ytã (#qßgtFR$$sù 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# ( ¨bÎ) ©!$# ߃Ïx© É>$s)Ïèø9$# ÇÐÈ
Artinya: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah ia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (QS. Al-Hasyr:7)
Ayat ini berisi ancaman keras terhadap orang-orang yang tidak mengamalkan Sunnah Rasulullah r. Apalagi jika ia menganggap pendapat seseorang lebih baik daripada Sunnah beliau. Allah I berfirman:
ôs)©9 tb%x. öNä3s9 Îû ÉAqßu «!$# îouqóé& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöquø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx. ÇËÊÈ
Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab:21)
ouqóé& dalam ayat tersebut artinya teladan yang diikuti. Oleh karena itu, seorang Muslim wajib menjadikan Rasulullah r sebagai teladannya, yaitu dengan mengikuti sunnah beliau.
Ibnu Abdil Barr berkata dalam Jami’ Bayan Al-Ilm wa Fadhlih (I/80), “Setiap terjadi ikhtilaf ulama, maka wajib mencari dalil dari Al-Qur’an, sunnah, ijma’ dan qiyas menurut ketentuan kaidah. Hal ini tidak boleh tidak. Jika di antara dalil-dalil tersebut sama kuatnya, maka harus dicari mana yang sedikit lebih kuat menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah. Apabila tidak didapati juga mana yang lebih kuat, maka wajib untuk tawaqquf (berhenti sampai di situ), dan tidak boleh memastikan sesuatu kecuali jika hal tersebut sudah diyakini.”
.... #sŒ$yJsù y÷èt/ Èd,ysø9$# žwÎ) ã@»n=žÒ9$# .... ÇÌËÈ
Artinya: “Apakah ada yang datang setelah kebenaran kecuali kebatilan?” (QS. Yunus:32)
$tBur tb%x. 9`ÏB÷sßJÏ9 Ÿwur >puZÏB÷sãB #sŒÎ) Ó|Ós% ª!$# ÿ¼ã&è!qßuur #·øBr& br& tbqä3tƒ ãNßgs9 äouŽzÏƒø:$# ô`ÏB öNÏd̍øBr& 3 `tBur ÄÈ÷ètƒ ©!$# ¼ã&s!qßuur ôs)sù ¨@|Ê Wx»n=|Ê $YZÎ7B ÇÌÏÈ
Artinya: “Dan tidaklah patut bagi lelaki mukmin dan tidak pula patut bagi perempuan mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia telah tersesat dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Ahzab:36)
Sesungguhnya Allah telah memberikan kenikmatan Al-Qur’an kepada kita yang dijadikan sebagai keterangan terhadap segala sesuatu, petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi kaum muslimin. Tidak ada seorang ahli batil pun yang mengutarakan hujjah, kecuali dalam Al-Qur’an terdapat keterangan yang menguak kebatilannya, sebagaimana firman Allah:
Ÿwur y7tRqè?ù'tƒ @@sVyJÎ/ žwÎ) y7»oY÷¥Å_ Èd,ysø9$$Î/ z`|¡ômr&ur #·ŽÅ¡øÿs? ÇÌÌÈ
Artinya: “Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.” (QS. Al-Furqan:33)
Perlu kita ketahui bahwa Rasulullah r telah meninggalkan jalan yang terang benderang untuk umatnya. Allah tidak akan mewafatkan Nabi Muhammad r, kecuali sesudah beliau menyelesaikan tugas menyampaikan risalahnya kepada umat dan menjelaskan kepada mereka seluruh syariat Allah, baik melalui ucapan maupun pengamalan. Generasi awal umat Islam telah Allah jaga dari berbagai macam penyelewengan. Mereka selalu istiqamah dan patuh terhadap apapun yang disampaikan oleh Rasulullah r. Ini tak lain karena beliau tidak pernah berbicara karena hawa nafsu, namun semuanya adalah karena wahyu yang diwahyukan:
$tBur ß,ÏÜZtƒ Ç`tã #uqolù;$# ÇÌÈ ÷bÎ) uqèd žwÎ) ÖÓórur 4ÓyrqムÇÍÈ
Artinya: “Dan tidaklah apa yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (QS. An Najm:3 – 4)
Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Nabi r tidak mengikuti sesuatu pun kecuali wahyu yang diturunkan kepadanya. Dan, barangsiapa yang menaati beliau, maka sesungguhnya ia telah menaati Allah. Allah I berfirman:
.... ö@è% $tB Ücqä3tƒ þÍ< ÷br& ¼ã&s!Ïdt/é& `ÏB Ç!$s)ù=Ï? ûÓŤøÿtR ( ÷bÎ) ßìÎ7¨?r& žwÎ) $tB #Óyrqム n<Î) ( þÎoTÎ) ß$%s{r& ÷bÎ) àMøŠ|Átã În1u z>#xtã BQöqtƒ 5OÏàtã ÇÊÎÈ
Artinya: “Katakanlah, ‘Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut siksa hari yang besar (Kiamat), jika mendurhakai Rabb-ku.” (QS. Yunus:15)
@è% Hw ãAqè%r& óOä3s9 ÏZÏã ßûÉî!#tyz «!$# Iwur ãNn=ôãr& |=øtóø9$# Iwur ãAqè%r& öNä3s9 ÎoTÎ) î7n=tB ( ÷bÎ) ßìÎ7¨?r& žwÎ) $tB #Óyrqム¥n<Î) 4 ö@è% ö@yd ÈqtGó¡o 4yJôãF{$# 玍ÅÁt7ø9$#ur 4 Ÿxsùr& tbr㍩3xÿtGs? ÇÎÉÈ
Artinya: “Katakanlah, ‘Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang gaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.” (QS. Al-An’am:50)
ö@è% $tB àMZä. %YæôÎ/ z`ÏiB È@ߍ9$# !$tBur Í÷Šr& $tB ã@yèøÿムÎ1 Ÿwur ö/ä3Î/ ( ÷bÎ) ßìÎ7¨?r& žwÎ) $tB #Óyrqム¥n<Î) !$tBur O$tRr& žwÎ) ֍ƒÉtR ×ûüÎ7B ÇÒÈ
Artinya: “Katakanlah, ‘Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan’.” (QS. Al-Ahqaf:9)
Allah I berfirman tentang para Nabi:
ö@è% !$yJ¯RÎ) Nà2âÉRé& ÄÓóruqø9$$Î/ 4 Ÿwur ßìyJó¡tƒ OÁ9$# uä!%tæ$!$# #sŒÎ) $tB šcrâxZムÇÍÎÈ
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kamu sekalian dengan wahyu.” (QS . Al-Anbiya’:45)
ö@è% bÎ) àMù=n=|Ê !$yJ¯RÎ*sù @ÅÊr& 4n?tã ÓŤøÿtR ( ÈbÎ)ur àM÷ƒytG÷d$# $yJÎ6sù ûÓÇrqム¥n<Î) úÎn1u 4 ¼çm¯RÎ) ÓìÏJy Ò=ƒÌs% ÇÎÉÈ
Artinya: “Katakanlah, ‘Jika aku sesat, berarti aku telah menyesatkan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk, maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Rabb-ku kepadaku.” (QS. Saba’:50)
Ayat-ayat di atas menjelaskan bahwa petunjuk itu hanyalah dari wahyu, tidak ada petunjuk lain selain daripadanya. Mensejajarkan atau bahkan meninggikan pendapat manusia dengan wahyu adalah perbuatan yang sangat bodoh. Tidak ada manusia berakal yang akan melakukan tindakan tersebut kecuali mereka yang terkurung dalam kebodohan. Sebab, pada dasarnya pendapat manusia hanyalah dampak dari keadaannya, sedang keadaan manusia itu sendiri sangat terbatas hingga tidak bisa dijadikan pijakan dalam masalah-masalah syari’at. Siapapun orangnya jika ia berpendapat tentang sesuatu hal, baik dalam urusan agama atau pun bukan, ia akan menemukan pendapat yang lebih baik daripada pendapatnya, cepat atau lambat. Hanya kebenaran Allah saja yang sempurna dan tidak terungguli.
Setelah generasi pertama Islam muncullah generasi berikutnya yang mengikuti jejak  mereka dalam mengikuti kebenaran Islam yaitu tabi’in dan para imam yang berada di atas petunjuk sebagai penerusnya. Dari generasi terbaiklah kita mengambil pemahaman karena mereka berguru langsung dengan Rasulullah r. Hal ini bertujuan agar Islam yang kita terima murni dan tidak tercampur pemikiran-pemikiran manusia yang kebenarannya relatif dan tak terjaga. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
(#qãèÎ7®?$# !$tB tAÌRé& Nä3øŠs9Î) `ÏiB óOä3În/§ Ÿwur (#qãèÎ7­Fs? `ÏB ÿ¾ÏmÏRrߊ uä!$uÏ9÷rr& 3 WxÎ=s% $¨B tbr㍩.xs? ÇÌÈ
Artinya: “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (darinya).” (QS. Al-A’raf:3)
Yang dimaksud dengan “apa yang diturunkan kepadamu” adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menjelaskan isi Al-Qur’an tersebut, bukan pendapat orang. Allah I berfirman:
#sŒÎ)ur Ÿ@ŠÏ% öNçlm; (#öqs9$yès? 4n<Î) !$tB tAtRr& ª!$# n<Î)ur ÉAqß§9$# |M÷ƒr&u tûüÉ)Ïÿ»uZßJø9$# tbrÝÁtƒ šZtã #YŠrßß¹ ÇÏÊÈ
Artinya: “Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada (hukum) Rasul,’ niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (QS. An-Nisa’:61)
Ayat ini menunjukkan bahwa barangsiapa yang diajak untuk mengamalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah tetapi ia malah menghalang-halanginya, maka ia termasuk golongan orang munafik. Karena yang dijadikan sebagai pertimbangan ialah keumuman lafal, bukan sebab-sebab khusus.
Pemikiran-pemikiran manusia yang datang setelah ketetapan Allah Tabaraka wa Ta’ala ini yang menambah, mengurangi, atau menyimpangkan kebenaran Islam yang telah sempurna. Allah berfirman :
.... tPöquø9$# àMù=yJø.r& öNä3s9 öNä3oYƒÏŠ àMôJoÿøCr&ur öNä3øn=tæ ÓÉLyJ÷èÏR àMŠÅÊuur ãNä3s9 zN»n=óM}$# $YYƒÏŠ ÇÌÈ....
Artinya: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku cukupkan atas kalian nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam itu jadi agama bagi kalian.” (QS. Al-Ma’idah:3)
.... $¨Br'sù ßt/¨9$# Ü=ydõuŠsù [ä!$xÿã_ ( $¨Br&ur $tB ßìxÿZtƒ }¨$¨Z9$# ß]ä3ôJusù Îû ÇÚöF{$# ÇÊÐÈ....
Artinya: “Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada harganya, adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi” (QS. Ar-Ra’d:17)
Apabila kita telah menemukan kebenaran, genggamlah ia tanpa memberi celah sesedikit apapun untuk terlepas. Dan jika cobaan dan ujian datang silih berganti bahkan bertubi-tubi, bersabarlah karena Allah telah menjamin keselamatan orang yang berpegang pada kebenaran. Jika kaum muslimin beristiqamah, ketahuilah bahwa tidak ada yang akan bisa membantai ilmu dan pemeluknya; sebagaimana pesan Allah:
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3øn=tæ öNä3|¡àÿRr& ( Ÿw Nä.ŽÛØtƒ `¨B ¨@|Ê #sŒÎ) óOçF÷ƒytF÷d$# ....ÇÊÉÎÈ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi madharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.” (QS. Al-Ma’idah:105)
¨bÎ) šúïÏ%©!$# ôMs)t7y Nßgs9 $¨YÏiB #Óo_ó¡ßsø9$# y7Í´¯»s9'ré& $pk÷]tã tbrßyèö6ãB ÇÊÉÊÈ
Artinya: “Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka.” (QS. Al-Anbiya’:101)
Apapun yang terjadi kita harus tetap memenuhi seruan Rasulullah r dengan kembali kepada sunnahnya, yang merupakan penjelasan terhadap isi kandungan Al-Qur’an. Allah I berfirman:
bÎ*sù óO©9 (#qç7ŠÉftFó¡o y7s9 öNn=÷æ$$sù $yJ¯Rr& šcqãèÎ7­Ftƒ öNèduä!#uq÷dr& 4 ô`tBur @|Êr& Ç`£JÏB yìt7©?$# çm1uqyd ÎŽötóÎ/ Wèd šÆÏiB «!$# 4 žcÎ) ©!$# Ÿw Ïöku tPöqs)ø9$# tûüÏJÎ=»©à9$# ÇÎÉÈ
Artinya: “Maka jika mereka tidak memenuhi seruanmu, ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Qashash:50)
Ketika seseorang telah mengikuti kebenaran, Allah akan menjamin bahwa ia tidak akan tersesat di dunia dan tidak celaka di akhirat. Hal ini diterangkan dalam firman-Nya:
.... $¨BÎ*sù Nà6¨ZtÏ?ù'tƒ ÓÍh_ÏiB Wèd Ç`yJsù yìt7©?$# y#yèd Ÿxsù @ÅÒtƒ Ÿwur 4s+ô±o ÇÊËÌÈ
Artinya: “Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thaha:123)
Orang yang hanya mengikuti wahyu tidak akan pernah takut dan sedih. Dalam surah Al-Baqarah Allah menyebutkan hal tersebut, yaitu:
.... $¨BÎ*sù Nä3¨YtÏ?ù'tƒ ÓÍh_ÏiB Wèd `yJsù yìÎ7s? y#yèd Ÿxsù ì$öqyz öNÍköŽn=tæ Ÿwur öNèd tbqçRtøts ÇÌÑÈ
Artinya: “Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah:38)
Semua nash Al-Qur’an dan As-Sunnah menunjukkan kewajiban untuk senantiasa merenungkan wahyu, memahaminya, mempelajarinya, dan mengamalkannya. Adapun mengkhususkan nash-nash tersebut seluruhnya, dengan dalih bahwa mempelajari wahyu, memahami, dan mengamalkannya tidak sah dilakukan kecuali oleh para mujtahid saja yang telah memenuhi syarat-syarat ijtihad, sebagaimana yang dikenal oleh para ulama ushul muta’akhirin, maka pengkhususan seperti ini memerlukan dalil khusus yang dapat dijadikan seperti rujukan. Padahal tidak ada sama sekali dalil yang menunjukkan pengkhususan hal itu. Bahkan dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah menunjukkan atas kewajiban mencermati wahyu, memahaminya, mempelajarinya, dan mengamalkan apa saja yang diketahuinya dari wahyu tersebut dengan ilmu yang benar, baik sedikit maupun banyak. (Mukaddimah Shahih Fiqih Sunnah I/48)
Demikianlah sedikit pembahasan tentang kebenaran Islam. Kebenaran tersebut tidak pernah berubah karena ia telah sempurna serta tidak akan tercemar. Akhirnya, setelah kita mengetahui tentang kebenaran tersebut maka wajiblah bagi kita untuk berpegang teguh dengannya supaya kita selamat.

0 Response to "Kebenaran Islam yang Tak Pernah Lekang"

Posting Komentar

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme