Jahiliyah dan Kebobrokannya

Jahiliah merupakan kata yang sering kita temui ketika membaca sejarah Islam. Sebagian orang telah mengerti betul tentang pengertian jahiliah. Namun, ada beberapa orang yang masih awam akan makna jahiliah. Mempelajari masalah jahiliah bukanlah semata-mata untuk mengetahui perihal penyembahan berhala, mempersembahkan sesaji dan menyembelih binatang untuknya, ataupun mengubur anak perempuan hidup-hidup. Lebih dari itu, apabila dipelajari dengan adil, tidak emosional, dalam rangka mencari kebenaran, menanggalkan segala bentuk taklid dan kefanatikan maka akan didapatkan pelajaran agung nan indah serta petunjuk menuju jalan kebenaran.

Secara bahasa, jahiliah berasal dari kata al-jahlu yang bermakna lawan kata dari ilmu  atau dengan kata lain tidak mengikuti ilmu. Sedangkan secara istilah, jahiliah adalah masa sebelum diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, ada pula yang mengatakan masa sebelum diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam hingga pembukaan kota Makkah.
Tujuan mempelajari perkara jahiliah diantaranya untuk mewaspadai dan menjaga diri agar tidak terjerumus ke dalamnya. Seorang yang tidak mengenalnya akan lebih mudah terjerumus ke dalamnya daripada orang yang telah mengenal betul tentang perkara jahiliah.
Berkata Amirul Mu’minin Umar bin Khaththab: “Hampir-hampir terlepas tali ikatan ke-Islaman seseorang seikat demi seikat, jika tumbuh dalam Islam seorang yang tidak mengetahui jahiliah.”

Asal Agama Kaum Jahiliah
Orang-orang jahiliah pada asalnya berada di atas agama nabi Ibrahim dan Isma’il, berdasarkan beberapa argumentasi berikut:
·         Rasulullah mengabarkan bahwa orang yang pertama kali mengubah agama nabi Ibrahim dan Isma’il (agama tauhid) dari tubuh orang-orang Arab menuju agama berhala adalah Amr bin Luhay al-Khuza’i. Dari Ibnu Abbas ia berkata:
“Rasulullah bersabda: ‘Orang yang pertama kali mengubah agama Nabi Ibrahim adalah Amr bin Luhay bin Qam’ah bin Khandaq Abu Khaza’.’” (HR. Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir dan al-Ausath dengan sanad hasan, lihat Silsilah Ahadits Shahihah al-Albani: 1677)
·         Semua kitab sejarah hampir sepakat menyebut bahwa orang-orang Arab pada masa lampau berada di atas agama Nabi Ibrahim dan Isma’il. Hal ini berlangsung dalam waktu yang lama.
·         Atsar dari Anas bin Malik yang diriwayatkan oleh al-Bazzar dengan sanad shahih, beliau mengatakan: “Manusia setelah Nabi Isma’il berada di atas agama Islam. Setan berbicara sesuatu pada manusia dengan maksud memurtadkan mereka dari Islam sehingga ia memasukkan dalam talbiah haji mereka ucapan:
‘Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi panggilan-Mu yang tiada sekutu bagi-Mu kecuali satu sekutu bagi-Mu, yang Engkau kuasai dan apa yang ia miliki’

Selayang Pandang Tentang I’tiqad Kaum Jahiliah
A.    Kaum Jahiliah dan Tauhid Rububiyyah
Sebagian kaum jahiliah menyekutukan Allah Ta’ala dalam sebagian kekhususan-kekhususan rububiyyah Allah Ta’ala. Adapun di antara bentuk-bentuk penyekutuan mereka dalam hal sebagian kekhususan-kekhususan rububiyyah Allah Ta’ala ialah sebagai berikut:
*      Mengimani bahwa zaman yang membinasakan mereka
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan mereka berkata: ‘kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa’, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS. Al-Jatsiyah:24)
Berkata Imam ath-Thabari –rahimahullah-: “Allah Ta’ala mengabarkan tentang musyrikin bahwasanya mereka mengatakan: ‘Tidaklah menghancurkan kami kecuali pergeseran malam dan siang dan panjang umur’, karena mengingkari adanya Rabb yang menghancurkan mereka (Allah Ta’ala).” (Tafsir ath-Thabari 11/263)
*      Mengikari perintah dan larangan Allah dengan dasar kehendak Allah yang umum
Berdasarkan firman Allah dalam QS. Al-An’am:134.
*      Mempercayai bahwa selain Allah memiliki pengaruh terhadap kehidupan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
“Empat perkara berada di dalam umatku, mereka tidak meninggalkan: berbangga diri dengan keturunan, mencatat nasab, meminta hujan dengan bintang-bintang, dan meratapi orang yang meninggal dunia.” (HR. Bukhari:934)
Berkata Syaikh Abdurrahman bin Hasan –rahimahullah-: “Jika seseorang menyakini bahwa bintang memiliki pengaruh dalam turunnya hujan, maka keyakinan ini merupakan bentuk kekufuran karena menyekutukan Allah dalam rububiyyah-Nya, dan seorang musyrik (syirik besar, pen.) adalah kafir. Jika tidak menyakini hal tersebut, maka termasuk syirik kecil karena menisbatkan nikmat Allah kepada selain-Nya, dan Allah tidaklah menjadikan bintang sebagai sebab turun hujan.” (Fathul Majid 2/435)
*      Perdukunan dan ramalan
Dukun adalah orang yang mengabarkan perkara-perkara ghaib. Orang-orang jahiliah melakukan perdukunan dan ramalan.
Mu’awiyah bin al-Hakam -radiallahu ‘anhu- berkata: “Saya mengatakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam:
‘Beberapa perkara kami melakukannya dimasa jahiliah, kami mendatangi para dukun.’ Maka beliau bersabda: ‘Janganlah kalian mendatangi para dukun.’ (HR. Muslim:537, Ahmad: 5/447)
*      Menggunakan gelang dan benang untuk tolak bala
Dari Imran bin Hushain, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam melihat seorang laki-laki mengenakan sebuah halqah (halqah pada asalnya bermakna: benda yang melingkar pada tangan, berasal dari benang, besi, emas, perak, dan lain-lain, dalam rangka tolak bala atau menghilangkannya. Dengan pengertian ini, jika seseorang memakainya dengan tujuan untuk hiasan, tidaklah mengapa, pen.) berasal dari tembaga. Maka Rasulullah bertanya: “Apa ini?” ia menjawab: “(Aku memakainya dengan sebab menolak) wahinah (jenis penyakit yang menimpa tangan).” Maka Rasulullah menjawab: “Lepaskanlah! Sebab tidaklah ia menambah kepadamu kecuali kelemahan dan penyakit. Kalau seandainya kamu meninggal dan benda itu ada padamu, tidaklah engkau beruntung selama-lamanya.” (HR. Ahmad 1/111; dikatakan dalam Majma’ Zawaid bahwa sanadnya hasan, al-Hakim men-shahihkannya dan adz-Dzahabi menyetujuinya)
*      Mengharap barakah dari selain Allah
Ini merupakan kesyirikan dalam rububiyyah, karena meyakini didapatkannya barakah dari selain Allah. Kaum jahiliah melakukan hal ini, berdasarkan riwayat dari Abu Waqid al-Laitsi, ia berkata:
“Kami keluar bersama Rasulullah (untuk berperang) ke daerah Hunain sedangkan kami baru saja keluar dari kekufuran, dan kaum musyrikin memiliki pohon bidara yang mereka beri’tikaf di sisinya dan menggantungkan senjata-senjata mereka. (Pohon tersebut) dinamai dzatu anwath.” (HR. Tirmidzi: 2180, Ahmad 5/218, dan dishahihkan al-Albani)
Berkata Syaikh Abdurrahman bin Hasan –rahimahullah-: “Kaum musyrikin tinggal dan berdiam di pohon bidara tersebut lantaran tabarruk dan mengagungkannya.”
*      Thiyarah (kesialan dari sebab burung dan semisalnya)
Sebagian ahli jahiliah meyakini bahwa burung dan semisalnya mempunyai pengaruh dalam mendapat atau menolak madharat.
Dari Mu’awiyah bin al-Hakam as-Sulami sesungguhnya beliau berkata kepada Rasulullah: “Dan di antara kami ada yang bertathayyur.” Rasulullah menjawab: “Itu adalah hal yang seseorang di antara kalian menjumpainya dalam jiwanya, maka janganlah ia menghalangi kalian.” (HR. Muslim: 538)
*      Memberikan hak pembuatan syari’at kepada selain Allah
Allah berfirman:
“Apakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tidak ada ketetapan yang menentukan dari Allah, tentulah mereka dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu akan memperoleh azab yang pedih. (QS. Asy-Syura:21)

B.     Kaum Jahiliah dan Tauhid Uluhiyyah
Kebanyakan kaum jahiliah menyekutukan Allah Ta’ala dalam uluhiyyah Allah Ta’ala. Adapun di antara bentuk-bentuk penyekutuan mereka dalam hal sebagian uluhiyyah Allah Ta’ala ialah:
*      Menyembah malaikat
Berkata Syaikh Ahmad bin Abdul Halim: “Mereka menyakini bahwasanya mereka menyembah malaikat, walaupun pada hakikatnya menyembah jin, sebab jin yang membantu mereka dan ridha dengan kesyirikan. Berdasarkan firman Allah Ta’ala QS. Saba: 40-41: ‘Dan para malaikat tidaklah membantu mereka di atas kesyirikan baik ketika hidup ataupun meninggal dan tidaklah pula mereka ridha terhadap kesyirikan.’” (Majmu’ Fatawa 1/157)
*      Menyembah matahari, bulan, dan bintang
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (QS. Fushshilat:37)
Berkata Imam ath-Thabari: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya Rabbmu, wahai Muhammad, Rabb si’ra.’ Si’ra adalah nama bintang yang disembah oleh kaum jahiliah.”
*      Menyembah jin dan setan
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka berbohong (dengan mengatakan) bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan, tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan.” (QS. Al-An’am:100)
*      Menyembah orang-orang shalih, nabi, dan rasul
Berkata Imam Bukhari –rahimahullah-: “Berhala-berhala yang ada pada kaum Nabi Nuh menjadikan sesembahan orang-orang Arab. Adapun Wad disembah oleh suku Kalb yang berada di Daumatul Jandal. Suwa’ disembah oleh suku Hudail, Yaghuts disembah oleh suku Hamdan, dan Nasr disembah oleh suku Himyar (keluarga Ali Dzi Kila’), mereka semua adalah nama orang-orang shalih pada masa kaum Nabi Nuh.
Kekeliruan seperti ini juga kita temui pada sebagian orang yang masih berdo’a dan memohon kepada selain Allah, misalnya: Memohon agar mendapat jodoh dari wali songo di makam-makam mereka, memohon perlindungan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam padahal sudah kita ketahui bahwa sepeninggal beliau maka Al-Qur’an dan sunnahlah yang akan menjadi jalan perlindungan bagi kita sebagaimana yang telah beliau pesankan pada umatnya, meminta kepada para dukun agar diberi keturunan dan lain sebagainya. Hal-hal ini termasuk perbuatan syirik karena do’a adalah ibadah dan Allah telah memerintahkan hamba-Nya untuk hanya berdo’a dan memohon kepada-Nya. Dia berfirman:
“Dan Rabb kalian berfirman: ‘Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagi kalian.’” (QS. Al-Mu’min: 60)
Ibnu Khuzaimah berkata: “Pernahkah kalian mendengar seorang ulama memperbolehkan seseorang berdo’a: ‘Aku memohon perlindungan kepada Ka’bah dari kejahatan makhluk Allah’? Atau memperbolehkan untuk berkata: ‘Aku memohon perlindungan kepada Shafa dan Marwah’? Atau: ‘Aku memohon perlindungan kepada Arafah dan Mina dari kejahatan makhluk Allah’? Seorang muslim yang paham agama Allah tidak akan mengatakan perkataan ini dan tidak akan memperbolehkan ucapan ini. Amatlah mustahil seorang muslim memohon perlindungan kepada makhluk Allah dari kejahatan makhluk-Nya!” (Kitab at-Tauhid I/401 – 402)
*      Menyembah pohon
a.       Pohon Najran
Pohon ini adalah ibarat dari sebuah pohon kurma yang panjang, ada di daerah Najran. Mereka mengadakan hari raya untuknya di setiap tahun. Mereka datang berbondong-bondong ke pohon tersebut untuk melakukan thawaf di sekelilingnya. Mereka menggantungkan pakaian mereka yang bagus dan perhiasan kaum wanita. Pohon ini disembah oleh kaum Najran hingga kemudian Allah mengirimkan angin yang menumbangkan pohon tersebut. Mereka mengkhususkan peribadatan tertentu dan mengkultuskan pohon tersebut.
b.      Dzatu Anwath
Dari Abu Waqid al-Laitsi beliau berkata: “Berkata Ibnu Abbas: ‘Orang-orang musyrik apabila selesai melakukan haji di Dzatu Anwath, kemudian meletakkan bekal mereka dan menggantungkan senjata-senjata mereka di sisinya, lalu masuk ke daerah haram Dzatu Anwath tanpa bekal dalam rangka menghormati pohon tersebut.
c.       Uzza
Berkata Imam ath-Thabari: “Uzza adalah nama sebuah pohon yang di atasnya dibangun sebuah rumah dan ada keranda-kerandanya. Terletak di daerah Nakhlah (antara kota Makkah dan Thaif), kaum kafir Quraisy mengagungkannya.”
*      Menyembah api
Berkata Imam al-Alusi: “Sekelompok orang Arab menyembah api. Bentuk penyembahan ini berasal dari Persia dan Majusi.”
*      Menyembah kuburan
Sebagian orang Arab jahiliah menyembah kuburan, lebih-lebih kuburan sesepuh suatu kaum. Terkadang kuburan tersebut menjadi tanah haram (tanah yang mulia) yang disucikan dan tempat ibadah yang didapatkan berkah dan syafa’at di dalamnya. Mereka i’tikaf dan juga menyembelih binatang di sisinya. Kuburan memiliki nilai dan kedudukan yang tinggi di sisi kaum jahiliah, jika yang dikubur adalah pemuka, pembesar, atau pimpinan mereka. Dan cungkup pun menghiasi kuburan-kuburan tersebut. Di sisi lain, menaruh rasa takut dan mencari perlindungan kepadanya.
*      Menyembah binatang
Sebagian kaum jahiliah menyembah binatang. Di antara penyembah-penyembah binatang tersebut ialah:
a.       Sekelompok penyair (Zaid al-Khail) dari suku Thai, mereka menyembah unta hitam.
b.      Sekelompok kaum dari Bahrain (Ahsa’ dan sekitarnya) yang dikenal dengan nama “al-Asbadzin”, menyembah kuda.
c.       Sebagian kabilah, semisal kabilah Iyad, mereka tabarruk (ngalap berkah) dari unta.
Dari perbuatan kaum terdahulu ini dapat ditarik pelajaran bahwa seluruh bentuk ibadah adalah hak Allah semata. Siapa saja yang mempersembahkan ibadah itu untuk selain Allah berarti dia telah menyembah sesuatu itu, dan tidak menyembah Allah.
Do’a merupakan salah satu ibadah yang sangat agung dalam agama kita. Maka tidak mengherankan jika Rasulullah menegaskan:
“Do’a adalah ibadah.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzy. Hadits hasan shahih dan al-Albani men-shahihkannya.)
Ibnu al-Atsir menjelaskan maksud dari hadits di atas: “Bahwa do’a adalah murni dan semata-mata ibadah; karena tujuan dari do’a sama dengan tujuan dari ibadah; yaitu mengharap pahala dan balasan dari Allah. (An-Nihayah fi Gharib al-Hadits IV/305)

Hakikat Kesyirikan Kaum Jahiliah
Falsafah orang Arab dalam penyembahan terhadap sesembahan-sesembahan mereka selain Allah, pemujaan dan keimanan terhadapnya, adalah mendekatkan diri kepada Allah dan mengharapkan syafa’at mereka ke hadirat Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman:
“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): ’Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’ Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS. Az-Zumar:3)
Berkata Syaikh Shalih Alu Syaikh: “Orang-orang musyrik jahiliah lebih pandai dan lebih berakal daripada sekedar menyembah batu, pepohonan, dan lain-lain. Mereka memiliki keyakinan, disaat mereka menyembah benda-benda tersebut maka arwah orang-orang shalih dan malaikat serta para nabi turun lalu menyatu ke dalam benda-benda tersebut lantas menjadi perantara antara penyembahannya dengan Allah Ta’ala atau menyampaikan hajat mereka ke hadirat Allah.

Tabi’at Kaum Jahiliah Terhadap Sesembahan Mereka
·         Ta’ashub (fanatik dengan membabi buta)
Hal ini dapat terlihat jelas dari perkataan mereka yang diabadikan dalam Al-Qur’an: “Mengapa ia menjadikan sembahan-sembahan itu Ilah Yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (QS. Shad:5)
·         Taklid kepada nenek moyang
“Bahkan mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka.’” (QS. Az-Zukhruf:22)

Semoga Allah menjadikan tulisan ini berbarakah dan menjadi bahan renungan demi pembenahan masyarakat muslim. Wallahu waliyut taufiq wa Hadi ila sawais sabil.

“Dikutip dari majalah Al Furqon edisi Sya’ban 1427 yang ditulis Abu Zahrah Zainudin.”

0 Response to "Jahiliyah dan Kebobrokannya"

Posting Komentar

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme